we ♥ you Papah….

Love your parents..we are so busy growing up, we often forget they are also growing old..

kalimat itu bener..benerrrr bangeettt…
terkadang kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri, dengan keegoisan kita sendiri, hingga tidak sempat untuk menyadari bahwa orang tua kita kian hari kian beranjak tua..

papahku selalu kuat, beliau jarang sekali sakit.. kalaupun sakit, paling hanya flu, batuk, dan demam biasa…
namun kini, mau tak mau, siap tidak siap, kami harus menyadari dan menerima bahwa kini bukan hanya penyakit-penyakit itu yang menggerogori tubuh beliau yang kian renta itu… kini papah menderita kanker getah bening…
kaget, sudah tentu… sedih, pasti… tapi jika hanya merasa kaget, sedih, dan tertekan, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah.. tidak akan menyembuhkan papah…

kami, mama aku kaka dan ade, akan mengusahakan segala pengobatan terbaik untuk papah…
kami juga akan senantiasa berdoa untuk papah…
kami yakin, Allah SWT akan memberikan yang terbaik untuk papah.. Allah akan menyembuhkan papah…
Allah gak akan ngasih ujian tanpa jawaban, Allah gak akan ngasi ujian yang diluar kemampuan umatnya…kita harus yakin itu pah…
Papah harus kuat, papah harus tabah, juga sabar menghadapin penyakit ini ya…
kita hadapin ini sama-sama…
kita semua sayang sama papah…

be strong daddy… we will face it together… we are a team… we will fight it together.. forever…

p.s : i always cry every time i remember you daddy… i don’t know how many times i cried for you… but i promise you, i will never cry in front of you… You need us to be strong to strengthen you… we know that… promise me that you will never tired to fight your sickness daddy… we’re here with you… we ♥ you soooooo muchhhh….. you’ll be ok daddy, Allah will heal you and throw away your sickness… be sure, okay? 🙂

Iklan

Karena Cinta Itu Sempurna,,

"Untukku hidup adalah perjalanan, petualangan atau cara lain Tuhan memberi tahu aku bagaimana cara bersenang-senang. Aku tahu Tuhan pasti menentukan tujuan hidupku. Aku tidak perlu mencarinya. Aku hanya harus menunggu Ia menunjukannya...

Kehidupanku diawali dari sebuah kelahiran, tentu saja. 2,95 kg, 51 cm. Penuh rasa ingin tahu tapi juga kebingungan. Akan kemana? Menjadi apa? Sampai Tuhan memberiku petunjukNya satu-persatu. Scoliosis. Mika. HIV/AIDS. Dan kepergian Mika...

Awalnya petunjuk-petunjuk itu tampak seperti benang kusut. Aku bisa menyentuhnya tapi sulit untuk menemukan ujungnya agar aku bisa mengurainya secara berurutan. Aku bahkan sempat mengira semuanya adalah bencana. Lalu Tuhan membantuku untuk mengurutkan semuanya, menempatkan segala peristiwa yang diberikanNYA sebagai reaksi berantai."



Begitulah sinopsis yang terpampang di cover belakang novel tersebut. cukup menarik, terlebih ada kata scoliosis disitu..yap, gw pun mengidap penyakit yang sama.

awal baca, cukup menarik bagaimana Indi menggambarkan tentang penyakitnya.. tentang seperti apa alat besi(yang terkenal dengan nama brace) yang harus dipakaI 23 jam sehari itu.. juga tentang bagaimana rasanya bagian punggung sebelah kanan kita berbeda dengan punggung sebelah kirinya, serta bagaimana rasa linu yang menyerang di bagian punggung yang berbeda tersebut.

Hal menarik lainnya dari novel ini adalah tentang Mika.. gw belum baca buku pertama Indi yang berjudul Waktu Aku Sama Mika, tp membaca sedikit cerita tentang Mika di novel ini sungguh membuat novel ini menjadi lebih menarik dan tidak monoton.

Sepertinya Indi cukup memiliki kehidupan yang cukup indah dalam hal cinta.. dia memiliki seorang Mika yang tak kalah indahnya... dan saat Mika pergi, muncul Ray yang kemudian lebih melengkapi keindahan itu...memang hanya dengan membaca novel ini saja, kita tidak tahu seberapa sedih kehidupan Indi saat kehilangan Mika, juga seberapa sulit hidupnya saat berjuang melawan scoliosis...but still for me, it's like a fairy tale...and i believe, this is truly happened to her...lucky you Indi :-)

ga ada yang sempurna di dunia..begitu juga dengan novel ini...menurut gw, cara bercerita Indi dalam novel ini terlalu terburu-buru...dengan sub-judul dan isinya yang terlalu singkat serta perpindahan masa yang juga begitu singkat, saat gw baca novel ini gw merasa berlari dari satu alur ke alur yang lain.

Selain itu, sebagai sesama penderita scoliosis, entah mungkin memang dia yang terlalu mendramatisir, atau mungkin gw yang tidak mengalami hingga sejauh itu, tp menurut gw, cara Indi bercerita tentang penyakitnya itu terlalu melebih-lebihkan. bagaimana sakit yang ia rasakan bahkan jika seseorang hanya menyentuh punggungnya saja. gw gak ngerasain hal itu...padahal derajat scoliosis yang gw idap pun cukup besar (gw lupa tepatnya berapa derajat), tapi gw gak pernah tuh merasakan sakit hanya karena dipengang punggungnya oleh seseorang.

Bahkan saat Indi bercerita bagaimana malunya dia saat harus di rontgen berkali-kali dan berbagai posisi disaat usianya masih cukup muda saat itu, gw ngerasa kalo hal itu berlebihan... gw mengalami hal yang sama di usia yang hampir sama pula, dan gw gak pernah tuh merasakan hal sampai sejauh itu.. entah mungkin pikiran Indi yang sudah cukup dewasa saat itu, atau pikiran gw lah yang masih terlalu kekanak-kanakan, namun menurut gw, hal itu berlebihan. and furthermore, gw jadi ngerasa bosan membaca novel ini. Mungkin karena yang aku rasakan tidak seberlebihan yang Indi rasakan, jadinya aku bosan dengan bagian saat Indi berserita tentang scoliosis nya... dan hasilnya, yang lebih aku cari dan aku nikmati hanyalah saat Indi bercerita tentang Mika. itu saja...